REVIEW FILM 3 SRIKANDI (Nasionalisme dalam Kacamata Perempuan)
(Ulasan Terbaik Sayembara Mengulas Film 3 Srikandi oleh BEM FISIP UNEJ)
Nama : Sabrina Hanny
Prodi : Ilmu Hubungan Internasional
Angkatan : 2019
Film yang disutradarai oleh Imam Brotoseno yang mana sekaligus menjadi debutnya di dalam seni sutradara ini tayang di bioskop pada tahun 2016. Peluncuran film ini juga bersamaan dengan pelaksanaan Olimpiade tahun 2016, yang mana film ini dapat mengobarkan semangat para atlet yang akan berjuang mewakili Indonesia pada ajang olimpiade olahraga terbesar. Film ini menceritakan tentang perjuangan tiga orang pemanah asal Indonesia yang berhasil meraih medali perak dalam Olimpiade Seoul 1988 serta menjadi medali yang pertama untuk Indonesia dalam ajang Olimpiade. Mereka adalah Nurfitriyana Saiman yang diperankan oleh Bunga Citra Lestari, Lilies Handayani diperankan oleh Chelsea Islan, dan Kusuma Wardhani yang diperankan oleh Tara Basro beserta pelatih, sang “Robin Hood” Indonesia yang sempat menghilang Donald Pandiangan, yang diperankan dengan sangat epic oleh aktor kenamaan Indonesia Reza Rahadian.
Film dibuka dengan Nurfitriyana atau akrab disapa Yana melakukan pertandingan panahan pada ajang SEA GAMES 1987 yang berlangsung di Jakarta. Berkat prestasinya, Yana akan maju pada Olimpiade Seoul 1988. Saat itu Yana meminta untuk dicarikan pelatih yang terbaik, supaya tidak mengulang sejarah kelam. Diberitakan saat itu Donald Pandiangan sang Robin Hood Indonesia yang beberapa kali menyabet medali dalam kejuaraan Internasional, digadang-gadang akan dapat menjadi peraih medali pertama bagi Indonesia dalam Olimpiade 1980 di Moscow. Namun, tak disangka-sangka Uni Soviet saat itu justru melakukan invasi ke Afghanistan, yang membuat banyak pihak serta negara-negara memboikot Uni Soviet, dan beruntun pada pemboikotan acara Olimpiade 1980. Di Indonesia sendiri demo besar-besaran untuk pemboikotan Uni Soviet juga terjadi, sehingga pada akhirnya Indonesia pun turut memboikot dan tidak mengirimkan satu kontingen pun dalam kegiatan Olimpiade 1980 di Moscow.
Donald Pandiangan yang karirnya saat itu sedang cerah-cerahnya ditambah dengan tiket emas-nya menuju olimpiade 1980 harus hancur mimpinya karena hal tersebut. Hingga 8 tahun kemudian ia berusaha meneruskan mimpinya itu, namun bukan sebagai atlet, melainkan sebagai pelatih dari tiga Srikandi yang akan maju pada Olimpiade Seoul 1988. Cara melatih yang cukup keras dan disiplin, itulah mungkin yang bisa digambarkan dari sosok Donald Pandiangan. Tak hanya kesulitan dalam menghadapi latihan, film ini juga menceritakan setiap permasalahan atau rintangan yang dimiliki oleh maisng-masing atlet. Mulai dari Nurfitriyana, memiliki ayah cukup keras dan hanya ingin anaknya berfokus pada skripsi dan kuliahnya. Kemudian ada Kusuma yang dihadapkan dengan situasi ekonomi sulit, sehingga ayahnya menuntutnya untuk lebih memilih menjadi PNS dibandingkan seorang atlit. Selanjutnya ada Lilies, berbeda dari kedua atlet lainnya, Lilies ini justru mendapatkan dukungan penuh dari orang tuanya untuk membentuknya menjadi seorang atlet panahan professional, namun ia kerap kali bertengkar dengan ibunya karena masalah perjodohan.
Bukan film Indonesia namanya kalau tidak menyelipkan unsur romansa didalamnya, kisah Lilies yang berpacaran dengan atlet silat, lalu Kusuma yang menjalin kasih dengan atlet panahan Adang Ajiji, ditambah adanya unsur komedi disaat-saat mereka menjalankan latihan membuat film dengan durasi 2 jam ini tidak membuat bosan, setting tahun 80an juga tergambar dengan sangat baik disini. Jujur, selama menonton film ini saya beberapa kali merinding, ketegangan yang dibuat saat perlombaan, hingga euforia kemenangan. Tergambar jelas bagaimana 3 srikandi ini berkeinginan teguh untuk membawa medali bagi Indonesia, rasa kecintaan mereka pada tanah air dan tentu dengan olahraga panah yang berhasil membawa mimpi besar Indonesia dalam meraih medali pada ajang Olimpiade. Ditambah dengan pancarahan cahaya yang muncul dari mata sang pelatih Donald Pandiangan yang suskes membawa tiga Srikandi ini meraih mimpinya yang gagal ia capai 8 tahun lalu yaitu memberikan medali pertama untuk Indoensia. Kebahagiaan serta rasa puas itu sangat terlihat, Reza Rahadia such a great actor!. Film ditutup dengan soundtrack lagu berjudul Tundukkan Dunia yang dinyanyikan oleh BCL, yang menambah aura kemenangan membuat saya merinding hingga menangis haru melihat semangat para atlet yang berlaga.
Melihat film ini, membuat saya berpikir bahwa tak ada batasan, baik gender, usia, hingga profesi dalam membawa nama baik untuk Indonesia. Dalam film ini, menunjukkan bahwa ketiga perempuan hebat ini berlatih, berjuang dan melakukan yang terbaik untuk satu tujuan, yaitu Indonesia. Berawal menjadi perwakilan daerah masing-masing, sampai pada titik dimana harus mewakili negara bukan perkara mudah. Tugas yang cukup sulit saat kita mengemban amanah, ketika semua doa dipanjatkan, semua keringat dicurahkan dan semua mata yang penuh harap itu melihat, dan menunggu satu kata yaitu “Menang”. Salah satu adegan yang saya paling sukai dalam film ini adalah, ketiga tiga Srikandi beserta pelatihnya, sedang menonton pertandingan olahraga bersama warga, dan banyak warga mencurahkan kekecewaan ketiga yang dijagokan kalah, saat itu Bang Pandi, panggilan akrabnya menjelaskan pada para atletnya, dia menyuruh mereka untuk meliha para warga, warga yang sudah memberi mereka makan, memberikan mereka fasilitas, serta memberikan mereka kesempatan untuk dapat berlaga di Olimpiade bersedih saat atlet jagoannya kalah, dari situ Bang Pandi menumbuhkan semangat para Srikandi untuk memenangkan pertandingan, bukan hanya untuk dirinya sendiri, melainkan untuk seluruh bangsa Indonesia.
Mereka bertiga berhasil membuktikan bahwa perempuan pun, bisa dan mampu untuk membela negara dengan caranya masing-masing. Bukan berperang, bukan pula melawan penjajah, namun dengan keringat serta kerja keras yang dihadapi selama ini. Entah kenapa saat melihat film ini, salah satu poin yang saya tangkap adalah ketika Donald Pandiangan diminta untuk melatih tim panahan putri, lalu ia terlihat keberatan dan menanyakan kenapa harus tim putri yang dilatih, saat itu Udi Harsono yang diperankan oleh Donny Damara bertanya apakah Pandi meragukan kemampuan dari tim putri, Namum pandi menjawab dengan tegas bahwa ia yakin para atlet di tim putri punya peluang yang sama, dan dia hanya ingin tau siapa yang akan menjadi pelatih tim putra.
Pada tahap ini saya cukup banyak berpikir, bahwa tentu ada sedikit keraguan dalam diri seorang Donald Pandiangan, bukan keraguan akan tim putri, namun ragu penuh harap pada atlet panahan tim putra, tentu secara tidak langsung ia ingin melatih tim putra, dan menjadikan tim putra sebagai pembawa medali bagi Indonesia. Namun, hal itu tidak menghentikan mimpinya, ia melatih tim putri, dan membuktikan, bahwa bukan hanya peluang bermain saja, namun juga peluang mendapatkan Medali Perak sekaligus medali pertama bagi Indonesia dalam ajang Olimpiade.
Setelah melihat film ini, mungkin akan ada banyak orang, khususnya perempuan yang bersemangat meraih cita serta mimpinya, tentu bukan untuk diri sendiri, namun untuk bangsa. Jika pada tahun 1988, tiga Srikandi, perempuan hebat membawa nama Indonesia melalui Olimpiade. Di masa sekarang ada banyak sekali perempuan Indonesia yang berprestasi dan sangat membanggakan dengan caranya masing-masing.
Banyak sekali tokoh perempuan yang sangat berpengaruh, tak hanya bagi bangsa Indonesia bahkan seluruh masyarakat diluar sana. Seperti saat ini Indoensia masih bereuforia dengan kemenangan Gresyia-Apriyana yang mampu meraih medali emas pada Olimpiade Tokyo 2020 pada cabang Bulutangkis Ganda Putri, sekaligus menjadi medali pertama bagi Indonesia dalam cabang olahraga tersebut. Ada juga Susi Susanti dan Liliyana Natsir yang juga peraih medali emas dalam Olimpiade. Tak hanya itu, Indoensia masih memiliki tokoh perempuan Inspiratif seperti Sri Mulyani, dan Susi Pudjiastuti yang berkembang dan mengapakkan sayap dalam bidang ekonomi, kemudian ada Butet Manurung yang dikenal sebagai penggagas dari Sokola Rimba. Kemudia ada Maudy Ayunda, Tasya Farasya, dan Stefani Tan, yang masuk dalam Forbes 30 under 30 dan bergerak dalam dunia entertain seperti acting, fasyun serta digital content creator, dan masih banyak lainnya. Banyak hal yang membuktikan bahwa nasionalisme bagi perempuan bukan lagi sekedar menjadi pahlawan yang melwan penjajah, Namun menjadi seorang nasionalis, ialah dia yang mampu mengejar dan meraih mimpinya dengan caranya sendiri, dan tetap menjadi diri sendiri
Komentar
Posting Komentar